Sejujurnya, kemarin saya kalah.
Iya, saya ingin menulis, tapi susah untuk memulai.
Padahal sudah berapa lama ini saya selalu menjadi pemenang.
Tidak terbiasa lagi menghadapi kekalahan.
Tapi itulah manusia bukan? Perlu disadarkan pada saat di atas untuk merasakan derita yang di bawah, dan perlu dipaksa menengok ke atas pada saat di bawah supaya bercita-cita setinggi mungkin.
Yah, kembali ke masalah.
Waktu paling hebat saat imajinasi saya mencapai titik tertinggi keliarannya adalah saat saya baru saja membaca, melihat, mendengar sesuatu yang menggugah perasaan saya.
Dan titik yang mendekati puncak itu adalah saat dimana saya sedang sendiri duduk di dalam kendaraan berjalan yang sepi.
Bahkan angkot, bahkan becak, bemo juga -tapi saya belum pernah naik bemo-
Saya lagi-lagi memikirkan studi perjalanan pendidikan saya kedepannya.
Ayah saya selalu ingin saya lebih fokus ke bidang pendidikan mengikuti jejaknya, daripada ke bidang-bidang praktik tenaga kerja atau apapun yang membutuhkan tenaga.
Saya tidak menggelengkan kepala saya, namun tidak pula mengiyakan.
Logis, tentu.
Kita wanita tentu saja dibuat selalu lebih lemah dari laki-laki.
Tapi dari segi intelejensi tentu kami tidak kalah.
Saya ingin sekali melanjutkan studi ke belanda.
Akhirnya saya memutuskan kesana karena saya tertarik pada dairy product dalam teknologi pangan.
Dan belanda merupakan kota yang ramah untuk masyarakat Indonesia sekarang ini.
Dan entah sejak kapan, belanda menjadi satu kata yang masuk dalam ‘mimpi’ saya tahun 2010 ini yang sebegitu inginnya saya wujudkan secepatnya.
Lalu..
Saya teringat, satu bulan ini, Januari 2010, saya cukup sering bertemu ayah-bunda.
Ada sekitar 5-6x walau saya di Bandung, mereka di Jakarta.
Mengingat biasanya pernah saja satu bulan full saya tak bertemu mereka.
Namun, kangen ini tidak terlampiaskan.
Saya ingin berada bersama lebih lama, lebih lama, lebih lama, lebih bercerita, lebih mendengarkan, lebih banyak tangis dan tawa..
Hari ini, saya dengar ayah sakit, sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur.
Seingin-inginnya saya lari dari semua kegiatan saya di Bandung untuk menemui ayah, merawatnya sampai beliau sembuh.
Lalu..
Saya berpikir ulang, jika saya ke Belanda nantinya, apakah saya akan tahan tidak bertemu ayah bunda selama itu?
Jawabannya jelas tidak.
Saya sadar, saya bukan tipe wanita-keluarga, tapi untuk beberapa hal, saya bisa mengutamakan keluarga saya diatas segala-galanya.
Saya cuma, masih bimbang.
Apakah lebih baik, saya bersama keluarga saya, membuat diri saya bahagia terus menerus berada di dekat mereka, atau saya pergi menggapai mimpi saya?
Mama, Papa..
Isty kangen…..
Istiqamah Hafid
Heart Family